Data Pribadi Saya

Nama Pemilik: Ig Fandy Jayanto

Alamat Rumah: Seputih Banyak, Kab. Lampung Tengah


Riwayat Pendidikan:

SD N 1 Sumber Baru
SMP N 1 Seputih Banyak
SMA Paramarta 1 {jurusan Ipa 1}
S1 di UM Metro {jurusan FKIP Matematika}

sedang menempuh pendidikan di Universitas Lampung (Unila)

Pekerjaan:
Guru di SMP Paramarta 1 Seputih Banyak
.........
.........
.........


Rabu, 24 Oktober 2012

PENGGUNAAN MEDIA DAN ALAT PERAGA




1.      Pengertian Media Pengajaran
Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Menurut Sadiman dkk, “Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat meransang fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Menurut Gagne, “Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.
Jadi dapat disimpulkan, media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari seseorang ke orang lain sehingga dapat memotivasinya untuk belajar.
Menurut Suherman “Pada dasarnya media terkelompokkan kedalam dua bagian, yaitu media sebagai pembawa informasi (ilmu pengetahuan), dan media sekaligus merupakan alat untuk menanamkan konsep seperti alat-alat peraga pendidikan matematika”.[1] Jadi alat peraga itu merupakan bagian dari media. Alat peraga hanya dapat digunakan untuk menanamkan suatu konsep, sedangkan media digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain atau siswa.   


2.      Manfaat Media Pengajaran
Adapun manfaat media pengajaran dalam proses pembelajaran siswa adalah :
a.      Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menmbuhkan motivasi belajar.
b.      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik
c.      Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabian tenaga, apalagi guru mengajar untuk setiap jam pelajaran
d.     Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktivitas lain seperti mengamai, melakukan, mendemonstrasikan dll.

3.      Kriteria-Kriteria Dalam Pemilihan Media
Adapun kriteria-kriteria untuk kepentingan pembelajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut :
a)      Ketepatanya dengan tujuan pengajaran
b)      Dukungan terhadap isi bahan pelajaran
c)      Kemudahan dalam memperoleh media
d)     Keterampilan guru dalam menggunakannya
e)      Tersedia waktu untuk menggunakannya
f)       Sesuai dengan taraf berfikir siswa

4.      Alat Peraga Pembelajaran Matematika
Pada dasarnya anak belajar melalui benda/objek kongkrit. Untuk memahami konsep abstrak siswa memerlukan benda-benda kongkrit (riil) sebagai perantara. Konsep abstrak itu dicapai melalui tingkat-tingkat belajar yang berbeda pula. Belajar ananak akan meningkat bila ada motifasi. Karena itu dalam pengajaran diperlikan faktor-faktor yang daat memotifasi siswa untuk belajar. Konsep abstrak yang baru dipahami siswa itu akan mengendap, melekat, dan tahan lama bila siswa belajar melalui perbuatan dan dapat dimengerti siswa, bukan hanya melalui mengingat-ingat fakta.
Karena itu, dalam pembelajaran matematika guru sering menggunakan alat peraga. Menurut Suherman, dengan menggunakan alat peraga maka:[2]
a.      Proses belajar mengajar termotifasi.
b.      Konsep abstrak matematika disajikan dalam bentuk kongkrit.
c.      Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dipahami.
d.     Konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk kongkrit yaitu dalam bentuk model matematika yang dapat dipakai sebagai objek penelitian ataupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru menjadi bertambah banyak.
Alat peraga dapat berupa benda riil, gambar atau diagramnya. Keuntungan alat peraga benda riil adalah benda itu dapat dipindah-pindahkan(dimanipulasi), sedangkan kelemahannya tidak dapat disajikan dalam bentuk buku (tulisan). Oleh karena itu untuk tulisannya kita buat gambarnya atau diagramnya, tetapi kelemahannya ialah tidak dapat dimanipulasikan.
Menurut Suherman, dalam membuat alat peraga yang harus diperhatikan adalah hal sebagai berikut:
a.      Tahan lama (dibuat dari bahan yang cukup kuat).
b.      Bentuk dan warnanya menarik.
c.      Sederhana dan mudah dilola.
d.     Ukurannya sesuai dengan ukuran fisik anak.
e.      Dapat menyajikan konsep matematika.
f.       Sesuai dengan konsep.
g.      Dapat menunjukkan konsep matematika yang jelas.
h.      Peragaan itu merupakan dasar bagi tumbuhnya konsep abstrak.
i.        Kita mengharapkan siswa belajar aktif, alat peraga itu supaya dapat dimanipulasi.
j.        Bila mungkin dapat berpaedah lipat (banyak).[3]
Terdapat kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemilihan alat peraga untuk pembelajaran masa kini terutama jika melihat karakteristik KBK, yaitu mencakup:
  1. Kesesuaian alat pengajaran yang dipilih dengan materi pengajaran atau jenis kegiatan yang akan  dilakukan oleh siswa;
  2. Kemudahan dalam memperoleh alatnya dan kemudian dalam perancangannya;
  3. Kemudahan dalam penggunaannya;
  4. Terjamin keamanan dalam penggunaannya;
  5. Kemampuan dana;
  6. Kemudahan dalam penyimpanan, pemeliharaan dan sebagainya.
7.      Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap melalui panca indera. Semakin banyak indera yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian / pengetahuan yang diperoleh. Dengan perkataan lain, alat peraga ini dimaksudkan untuk mengerahkan indera sebanyak mungkin kepada suatu objek sehingga mempermudah persepsi.
Menurut Abubakar Muhammad (1981), macam-macam alat peraga yaitu:
a.      Alat perga yang bersifat perasaan; yaitu alat peraga yang berpengaruh dalam menguatkan pikiran dengan perantaran indra-indra, dengan jalan menunjukkan bendanya sendiri atau contohnya atau gambarnya dan semacamnya.
b.      Alat peraga yang bersifat bahasa, yaitu alat peraga yang mempengaruhi kekuatan pikiran dengan perantaraan lafal-lafal (kata-kata) seperti penjelasan dengan menyebutkan contoh atau difinisinya atau (persamaan katanya).[4]
Sedangkan menurut Suherman, macam-macam alat perga pembelajaran matematika adalah:
a.      Alat peraga kekekalan luas, seperti luas daerah perssegi panjang, luas daerah bujur sangkar, luas daerah jajaran genjang dan lain sebagainya.
b.      Alat peraga kekekalan panjang, seperti tangga garis bilangan, pita garis bilangan, neraca bilangan dan lain sebagainya.
c.      Alat peraga kekekalan volume, seperti blok dienes, volume kubus, volume tabung dan lain sebagainya.
d.     Alat peraga kekekalan banyak, seperti abakus biji, lidi, dan kartu nilai empat.
e.      Alat peraga untuk percobaan dalam teori kemungkinan, seperti uang logam, dadu dan lain sebagainya.
f.       Alat peraga untuk pengukuran dalam matematika, seperti meteran, busur derajat, roda meteran dan lain sebagainya.
g.      Bangun-bangun geometri, seperti macam-macam derah segitiga, macam-macam daerah segi empat, pengubahan daerah segi banyak, daerah segi banyak dan lain sebagainya.
h.      Alat peraga untuk permainan dalam matematika, seperti mesin fungsi, saringan Eratosthenes, bujur sangkat ajaib dan lain sebagainya.[5]

5.      Perbedaan Alat Peraga Dan Media Pembelajaran
Perbedaan media dengan alat peraga terletak pada fungsinya dan bukan pada substansinya. Suatu sumber belajar disebut alat peraga bila hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran saja; dan sumber belajar disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh proses atau kegiatan pembelajaran dan ada semacam pembagian tanggungjawab antara guru di satu sisi dan sumber lain (media) di sisi lain. Pembahasan pada pelatihan ini istilah media dan alat peraga digunakan untuk menyebut sumber atau hal atau benda yang sama dan tidak dibedakan secara substansial.
Rahardjo (1991) menyatakan bahwa media dalam arti yang terbatas, yaitu sebagai alat bantu pembelajaran. Hal ini berarti media sebagai alat bantu yang digunakan guru untuk:
Di sini media memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat memotivasi belajarnya dan mengefisienkan proses belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan mudah bila dibantu dengan sarana visual, di mana 11% dari yang dipelajari terjadi lewat indera pendengaran, sedangkan 83% lewat indera penglihatan. Di samping itu dikemukakan bahwa kita hanya dapat mengingat 20% dari apa yang kita dengar, namun dapat mengingat 50% dari apa yang dilihat dan didengar.[6]



BAB III
HASIL PENGAMATAN

Dari hasil observasi pertama yang dilakukan mengenai media yang dibuat oleh guru yaitu gambar grafik persamaan garis lurus  bahwa media yang digunakan oleh guru tersebut dapat menarik perhatian siswa, siswa memperhatikan apa yang diterangkan oleh guru tanpa ada kegiatan yang lain seperti mengganggu teman atau meribut, dan suasana kelas tenang sehingga dapat menumbuhkan motifasi siswa untuk belajar. Dengan adanya media maka bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya tetapi masih ada sebahagian siswa yang kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru sehingga tujuan pengajaran krang tercapai sebagaimana yng diharapkan. Karena pada waktu guru memberikan soal latihan hanya beberapa orang yang dapat mengerjakannya. Sehingga metode yang digunakan oleh guru kurang bervariasi, sebab tanpa dijelaskan materi oleh guru siswa tidak dapat memahami materi tersebut.
Tetapi dengan adanya media yang talah disiapkan sebelumnya oleh guru dapat menghemat waktu, katena pada waktu menjelaskan materi guru tidak perlu lagi mencatatkan konsep tersebut di depan kelas. Dan siswa dapat juga melakukan kegiatan yang lain seperti mengamati grafik yang dibuat oleh guru.
Media yang dibuat oleh guru  tersebut sudah sesuai dengan tujuan pengajaran dan memberikan dukungan terhadap isi bahan pelajaran. Media tersebut mudah diperoleh dan guru terampil menggunakannya. Dalam proses pembelajaran tersedia waktu untuk menggunakannya dan sesuai dengan taraf berfikir siswa.
Kemudian mengenai alat peraga yang digunakan oleh guru tersebut pada pertemuan kedua yaitu rol yang disandarkan kedinding diberikan pada waktu menjelaskan radien. Bahwa alat peraga tersebut hanya dapat digunakan pada waktu itu saja, bantuk dan warnanya menarik, alatnya sederhana dan mudah dilola serta sesuai dengan ukuran fisik anak. Alat tersebut dapat menyajikan konsep matematika tentang gradien dan sesuai dengan konsep bahwa gradien itu adalah suatu kemiringan pada garis lurus serta dapat menunjukkan konsep matematika yang jelas. Dengan adanya alat peraga tersebut dapat menumbuhkan konsep yang abstrak. Alat tersebut dapat dimanipulasi tetapi tidak dapat berfaedah lipat.
Pada pertemuan ketiga alat peraga yang digunakan oleh guru adalah alam sekitar siswa yaitu lokal yang berbentuk balok. Alat tersebut tahan lama bentuk dan warnanya agak menarik, sederhana, mudah dilola, ukuranya sesuai dengan fisik anak, dapat menyajikan konsep matematika, dan sesuai dengan konsep serta menunjukan konsep yang jelas. Peragaan itu merupakan dasar bagi tumbuhnya konsep abstrak tetapi alat tersebut tidak dapat dimanipulasi tetapi berpaedah lipat.
Dengan adanya alat peraga maka proses belajar mengajar termotifasi. Siswa memperhatikan guru menjelaskan pelajaran tanpa ada kegiatan lain. Konsep abstrak matematika disajikan dalam bentuk kongkrit. Dan dengan adanya alat peraga maka dapat menghubungankan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dipahami.



NO
Kriteria-Kriteria Dalam Membuat alat Peraga
YA
TIDAK
KURANG
1
2
3
4
5
6
7
8
9

10
Tahan lama (dibuat dari bahan yang cukup kuat).
Bentuk dan warnanya menarik.
Sederhana dan mudah dilola.
Ukurannya sesuai dengan ukuran fisik anak.
Dapat menyajikan konsep matematika.
Sesuai dengan konsep.
Dapat menunjukkan konsep matematika yang jelas.
Peragaan itu merupakan dasar bagi tumbuhnya konsep abstrak.
Kita mengharapkan siswa belajar aktif, alat peraga itu supaya dapat dimanipulasi.
Bila mungkin dapat berpaedah lipat (banyak).



ANGKET
Observassi       : …………………………………….
Tanggal           :      November 2010



NO
Kriteria-Kriteria Dalam Pemilihan Media
YA
TIDAK
KURANG
1
2
3
4
5
6
Ketepatanya dengan tujuan pengajaran
Dukungan terhadap isi bahan pelajaran
Kemudahan dalam memperoleh media
Keterampilan guru dalam menggunakannya
Tersedia waktu untuk menggunakannya
Sesuai dengan taraf berfikir siswa



ANGKET
Observassi       : …………………………………….
Tanggal           :      November 2010




NO
Manfaat Media
YA
TIDAK
KURANG
1

2


3



4
Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menmbuhkan motivasi belajar.
Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik
Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabian tenaga, apalagi guru mengajar untuk setiap jam pelajaran
Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktivitas lain seperti mengamai, melakukan, mendemonstrasikan dll.



ANGKET
Observassi       : …………………………………….
Tanggal           :      November 2010



1.      Kesimpulan
Dari observasi yang dilakukan bahwa media yang digunakan oleh guru itu berupa gambar grafik yang dibuat diatas kertas karton. Walaupun guru sudah memilih media dengan baik tetapi manfaat dari media tersebut belum dapat dirasakan sebagai mana mestinya. Alat peraga yang digunakan guru tersebut cukup baik dan manfaat dari alat peraga tersebut dapat tercapat sebagai mana yang diharapkan.

2.      Kritik dan Saran
Penulis menyarankan dalam membuat media atau pun alat peraga hendaknya manfaat media dan alat peraga tersebut dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan. Berdasarkan hasil pengamatan penulis terlihat bahwa guru selalu berusaha agar siswanya memahami materi yang disampaikannnya. Jika metode yang pertama tidak berhasil maka guru menggunakan metode yang lain agar siswa mengerti dengan materi tersebut. Dalam menyelesaikan contoh soal, guru kurang teliti dengan apa yang ditulisnya tetapi ini tidak sering terjadi.  



A. Latar Belakang
Perubahan global dalam perkembangan pengetahuan dan teknologi, terutama yang berhubungan dengan sistem pendidikan di sekolah menuntut adanya perubahan sikap guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Sejak zaman dahulu ada anggapan yang salah kaprah, yaitu bahwa guru adalah orang yang paling tahu. Pendapat itu terus berkembang menjadi guru lebih dulu tahu atau pengetahuan guru hanya beda semalam dibandingkan dengan murid. Namun sekarang bukan saja pengetahuan guru sama dengan. murid, bahkan murid dapat lebih dulu tahu daripada gurunya. Ini semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi yang begitu cepat di sekitar lingkungan kita. Pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Banyak contoh, murid dapat lebih dulu mendapat informasi dengan cara mengakses informasi dari media massa seperti : surat kabar, televisi, hand phone (sms/mms), bahkan internet. Sedangkan seringkali guru dengan alas an klasik “masalah ekonomi”, mereka tidak dapat mengakses informasi dengan cepat. Bagaimana guru menyikapi perkembangan ini? Setidaknya ada tiga kelompok guru dalam menyikapi hal ini, seperti tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri. Kelompok pertama yaitu guru yang tidak peduli. Seorang guru yang mempunyai rasa percaya diri berlebihan (over confidence) barangkali akan berpegang kepada anggapan bahwa sampai kapanpun posisi guru tidak akan ergantikan. Dalam setiap proses pembelajaran tetap diperlukan sentuhan manusiawi dari seorang guru. Guru dalam kelompok ini menggambarkan murid sebagai seseorang yang bersifat tergantung. Pengalaman yang dimiliki murid tidak besar nilainya. Pengalaman yang sangat besar manfaatnya adalah pengalaman yang diperoleh dari gurunya. Murid tetap memerlukan sentuhan psikologis dari seorang guru. Guru dalam mengajar tidak hanya mengutamakan mata pelajaran akan tetapi harus juga memperhatikan murid itu sendiri sebagai manusia yang harus dikembangkan pribadinya. Harus dipelihara keseimbangan antara perkembangan intelektual dan perkembangan psikologis.
Teknologi tidak dapat menggantikan manusia. Teknologi secanggih computer core 2 duo, DVD, internet atau apapun, tidak dapat menggantikan manusia. Bagaimanapun teknologi berkembang secara pesat, guru tetap Sebagai yang “harus digugu dan ditiru”. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa media tidak dapat menggantikan posisi guru, namun sikap tidak peduli terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi, bukanlah sikap yang tepat. Walaupun bagaimana, lingkungan kita terus berkembang, tuntutan masyarakat terhadap kualitas guru semakin meningkat. Guru harus peduli.
Kelompok kedua adalah yang menunggu petunjuk. Kelompok inilah yangpaling banyak ditemukan di sekolah. Mungkin ini akibat dari kebijakan system pendidikan selama ini. Guru dalam sistem pendidikan nasional dianggap sebagai “tukang” melaksanakan kurikulum yang demikian rinci dan kaku. Kurikulum sangat lengkap dengan berbagai petunjuk teknis pelaksanaannya, sehingga guru tinggal melaksanakan tanpa boleh menyimpang dari pedoman baku yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaannya, kurikulum dilengkapi dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP), yang kemudian oleh Tim Guru Mata Pelajaran atau MGMP dijabarkan dalam Program Tahunan, Program Semester, AMP, Satuan Pelajaran, Rencana Pelajaran atau Skenario Pelajaran, dan sebagainya, yang semuanya dibuat secara rinci, tanpa peduli kondisi sekolah yang berbeda-beda.
Kelompok ketiga guru yang cepat menyesuaikan diri. Sejalan dengan perubahan kurikulum, otonomi pendidikan dan manajemen berbasis sekolah atau berbasis kompetensi, bukan lagi saatnya bagi guru untuk selalu menunggu petunjuk. Guru adalah tenaga profesional, bukan amatir. Dengan berdasar pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran setiap guru dituntut untuk dapat mengembangkan bahan ajar bagi murid dalam suatu proses pelaksanaan pembelajaran yang berkesinambungan. Guru dituntut untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi murid, bukan sekedar pengetahuan tetapi murid-murid hendaknya mampu berpikir (kognitif), mampu menentukan sikap (affektif) dan mampu bertindak (psikomotor), sehingga nantinya menjadi manusia yang bermartabat. Oleh karena itu saran yang tepat untuk guru adalah cepat-cepatlah menyesuaikan diri. Guru perlu segera mereposisi perannya saat ini, guru tidak lagi menjadi orang yang paling tahu di kelas, namun guru harus mampu menjadi fasilitator dalam belajar. Ada banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apakah sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Guru yang baik akan merasa senang kalau muridnya lebih pandai dari dirinya.
Oleh karena itu perlu adanya media pembelajaran yang pas sesuai dengan mata pelajaran yang di pegang oleh setiap guru mata pelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media pembelajaran yang memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut EACT yang dikutip oleh Rohani (1997 : 2) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi”. Sedangkan pengertian media menurut Djamarah (1995 : 136) adalah “media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.
Selanjutnya ditegaskan oleh Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu : “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”.
Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
B. Fungsi Media Pembelajaran
Fungsi media, khususnya media visual juga dikemukakan oleh Levie dan Lentz, seperti yang dikutip oleh Arsyad (2002) bahwa media tersebut memiliki empat fungsi yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Dalam fungsi atensi, media visual dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Fungsi afektif dari media visual dapat diamati dari tingkat “kenikmatan” siswa ketika belajar (membaca) teks bergambar. Dalam hal ini gambar atau simbul visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian diungkapkan bahwa fungsi kognitif media visual melalui gambar atau lambang visual dapat mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat pesan/informasi yang terkandung dalam gambar atau lambang visual tersebut. Fungsi kompensatoris media pembelajaran adalah memberikan konteks kepada siswa yang kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan mengingat kembali informasi dalam teks. Dengan kata lain bahwa media pembelajaran ini berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dalam bentuk teks (disampaikan secara verbal).
Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Pebelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pebelajar yang belajar lewat melihat atau sekaligus mendengarkan dan melihat. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman pebelajar terhadap materi ajar.

C. Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat dari penggunaan media sebagai bagian dari pengajaran di kelas adalah sebagai berikut:
1. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengar penyajian melalui media menerima pesan yang sama.
2. Pengajaran bisa lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan.
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik, dan penguatan.
4. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat untuk mengantarkan pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.
5. Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan
6. Pengajaran dapat diberikan kapan dan dimana diinginkan.
7. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
8. Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif, dalam proses belajar mengajar.
Dengan menggunakan istilah media pengajaran, Sudjana dan Rivai (1992) mengemukakan beberapa manfaat media dalam proses belajar siswa, yaitu: (i) dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa karena pengajaran akan lebih menarik perhatian mereka; (ii) makna bahan pengajaran akan menjadi lebih jelas sehingga dapat dipahami siswa dan memungkinkan terjadinya penguasaan serta pencapaian tujuan pengajaran; (iii) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata didasarkan atas komunikasi verbal melalui kata-kata; dan (iv) siswa lebih banyak melakukan aktivitas selama kegiatan belajar, tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati, mendemonstrasikan, melakukan langsung, dan memerankan.

D. Urgensi Media Pembelajaran
Perkembangan teknologi yang kontinu dalam dunia kerja tidak hanya mengharuskan lulusan perguruan tinggi (PT) memiliki pengetahuan yang luas akan tetapi juga memiliki keterampilan profesional yang siap digunakan di lapangan pekerjaan. Kenyataan ini membawa konsekuensi bahwa PT secara terus-menerus perlu melakukan peningkatan kualitas lulusan agar memiliki kompetensi seperti yang diinginkan. UNESCO dalam konteks ini mengemukakan kompetensi yang perlu dimiliki oleh lulusan PT yaitu: (1) Pengetahuan yang memadai (to know), (2) Keterampilan dalam melaksanakan tugas secara profesional (to do), (3) Kemampuan untuk tampil dalam kesejawatan bidang ilmu/profesi (to be), dan (4) Kemampuan memanfaatkan bidang ilmu untuk kepentingan bersama secara etis (to live together).
Untuk pencapaian tujuan tersebut ditempuh melalui proses belajar yang efektif. Pembelajaran merupakan sebuah proses perubahan perilaku sebagai akibat dari interaksi dengan lingungan sehingga terjadinya pengalaman belajar dan hasil belajar menjadi lebih bermakna (meaningful lerning). Keberhasilan pembelajaran ditandai dengan perolehan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif pada diri individu, sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Keberhasilan belajar ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya penggunaan media yang berfungsi sebagai perantara pesan-pesan pembelajaran.
Media berfungsi untuk mengarahkan siswa untuk memperoleh berbagai pengalaman belajar. Pengalaman belajar (learning experience) tergantung interaksi siswa dengan media. Media yang tepat sesuai dengan tujuan akan mampu meningkatkan pengalaman belajar yang mampu mempertinggi hasil belajar. Alasan ini sejalan dengan pendapat Edgare Dale dengan teori ”Cone Experience” yang menjadi dasar pokok penggunaan media dalam pembelajaran. Pengertian, Tujuan, Manfaat, Dan Fungsi Media Pembelajaran


Pendahuluan
                Pembelajaran disekolah pada saat ini mulai disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi  perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan. Perkembangan pesat dibidang teknologi informasi khususnya internet, mempercepat aliran ilmu pengetahuan yang menembus batas-batas dimensi ruang, birokrasi, kemapanan, dan waktu. Program-program di internet bukan hanya menampilkan data dan informasi yang dapat ditransmisikan dengan kecepatan tinggi, tetapi juga ilmu pengetahuan yang dapat diakses secara cepat oleh penggunanya. Dan tentu saja kondisi ini berpengaruh pada kebiasaan dan budaya pendidikan yang dikelola selama ini.
                Kemajuan dan perkembangan teknologi sudah demikian menonjol, sehingga penggunaan alat-alat bantu mengajar seperti alat-alat audio,visual serta perlengkapan sekolah disesuaikan dengan perkembangan jaman tersebut. Dan juga harus disesuaikan dnegan tuntutan kurikulum sesuai dengan materi, metode, dan tingkat kemampuan belajar siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik disekolah.
                Untuk itu, para pengajar mulai berusaha membiasakan diri untuk menggunakan peralatan-peralatan seperti OHP, LCD, CD, VCD, video, computer dan internet dalam pembelajaran dikelas. dengan program pembelajarna yang dikembangkan ini patut dipelajari pengajar harus mempelajarinya agar mempermudah proses pembelajaran dan pendidkikan, sehingga memudahkan pembelajaran untuk berjalan dengan baik dikelas.
               
Pengertian Media Pembelajaran
                Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalahsebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Banyak batasan atau pengertian yan dikemukakan para ahli tentang media, diantaranya adalah: Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Asosociation of Education and Communication Technology (AECT).
                Dari pengertian diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa substansi dari media pembelajaran adalah bentuk saluran, yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan atau pembelajar dapat pula dikatakan  bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan dalam lingkungan pembelajar yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar

Tujuan dan Manfaat Media Pembelajaran
                1. Tujuan Media  Pembelajaran
Tujuan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran, adalah sebagai berikut :
a. mempermudah proses pembelajaran di kelas
b. meningkatkan efisiensi proses pembelajaran
c. menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar
d. membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran
                2. Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
b. bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih di pahami pembelajar, serta memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik
c. metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-semata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, pembelajar tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
d. pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasa dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lainya.

1. Manfaat Media pembelajaran bagi pengajar, yaitu:
                a. memberikan pedoman, arah untuk mencapai tujuan
                b. menjelaskan struktur dan urutan pengajarn dengan baik
                c. memberikan kerangka sistematis secara baik.
                d. memudahkan kembali pengajar terhadap materi pembelajaran
                e. membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian dalam pembelajaran.
                f. membangkitkan rasa percaya diri seorang pengajar.
                g. meningkatkan kualitas pembelajaran
2. Manfaat media  pembelajaran bagi pembelajar, yaitu:
                a. meningkatkan motivasi belajar pembelajar
                b. memberikan dan meningkatkan variasi belajar pembelajar
                c. memberikan struktur materi pelajaran
                d. memberikan inti informasi pelajaran
                e. merangsang pembelajar untuk berpikir dan beranalisis.
                f. menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan.
                g. pelajar dapat memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan pengajar . 

Pertimbangan Pemilihan Media
                Pertimbangan media yang akan digunakan dalam pembelajaran menjadi pertimbangan utama, karena media yang dipilih harus sesuai dengan:
                1. tujuan pengajaran
                2. bahan pelajaran
                3. metode mengajar
                4. alat yang dibutuhkan
                5. pribadi mengajar
                6. minat dan kemampuan mengajar
                7. situasi pengajaran yang sedang berlangsung
                Keterkaiatan antara  media pembelajaran dengan tujuan, materi, metode, dan kondisi pembelajar, harus menjadi perhatian dan pertimbangan pengajar untuk memilih dan menggunakan media dalam proses pembelajaran dikelas, sehingga media yang digunakan lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebab media pembelajaran tidak dapat berdiri sendiri, tetapi terkait dan memiliki hubungan secara timbalebalik dengan  empat aspek tersebut. Dengan demikian, alat-alat, sarana, atau media pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan empat aspek tersebut, untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.


Fungsi Media Pembelajaran
Media Pembelajaran berfungsi untuk merangsang pembelajaran dengan:
                1.menghadirkan obyek sebenarnya dan obyek yang langkah
                2.membuat duplikasi dari obyek yang sebenarnya
                3.membuat konsep abstrak ke konsep konkret
                4.memberi kesamaan persepsi
                5.mengatasi hambatran waktu, tempat, jumlah, dan jarak
                6.menyajikan ulang informasi secara konsisten
                7.memberi suasana yang belajar yang tidak tertekan, santai, dan menarik.

Selain fungsi diatas. Livie dan Lentz(1982) mengemukakan 4 fungsi media pembelajaran yaitu:
                1. fungsi atensi berarti media visual merupakan inti, menarik dan mengrahkan perhatian pembelajar akan berkosentrasi pada isis pelajaran
                2. fungsi afekti maksudnya media visual dapat dilihat dari tingkat kenikmaran pembelajar ketika belajar membaca teks bergambar.
                3. fungsi kognitif yaitu mengungkapkan bahwa lambang visual mempelancar pencapaian tujuan dalam memahami dan mendengar informasi
                4.fungsi kompensatoris yaitu media visual memberikan konteks untuk memahami teks dan membantu pembelajr yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

dari empat fungsi visual, dapat dikatakan bahwa belajar dari pesan visual memerlukan keterampilan tersendiri. tehnik afektif adalah tehnik untuk memahami tehnik pesan visual. yang terbagi dari beberapa fase seperti dibawah ini:
                1. fase diffrensiasi. yaitu dimana pembelajar mula-mula mengamati, mengidentifikasi dan menganalisis
                2. fase integrasi yaitu di mana mempelajar menempatkan unsure-unsur visual secara serempak, menghubungkan pesan-pesan visual kepada pengalaman pengalamannya.
                3. kesimpulan, yaitu dari pengalaman visualisai untuk kemudian menciptakan konseptualisasi baru dari apa yang mereka pelajari sebelumnya.

Hasil penelitian Edmund Faison, dkk dalam Nana Sudjana dan Ahmad Rivai tentng pennggunaan gambar visual dalam pembelajaran disimpulkan:
1. terdapat beberapa hasil penelitian bahwa untuk memperoleh hasil belajar bagi pembelajar secara maksimal yaitu:
                1.gambar-gambar yang digunakan harus jelas
                2.gambar harus familiar dgn pembelajar
                3.gambar yang digunakan ukurannya cukup besar
2. terdapat bukti, gambar-gambar berwarna lebih menarik minat pembelajar.
3. hasil penelitian Mabel Rudisill. gambar-ganbar yang disukai anak-anak adalah gambar-gambar berwarna yang menumbuhkan impresi atau kesan realistik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat Datang Di Blogger Ignasius Fandy Jayanto