DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
Hakikat MIPA...........................................................................................................
1.1 Hakikat Matematika................................................................................
1.2 Hakikat IPA.............................................................................................
Keterkaitan dalam MIPA..........................................................................................
2.1 IPA untuk Matematika............................................................................
2.2 Keterkaitan MIPA dengan teknologi dan masyarakat............................
2.3 Keterampilan MIPA dan Teknologi........................................................
Tujuan Pendidikan MIPA..........................................................................................
3.1 Pengembangan kemampuan pemecahan masalah....................................
3.2 Pengembangan keterampilan mengumpulkan informasi dan
mengambil keputusan .............................................................................
3.3 Pengembangan sikap................................................................................
3.4 Melek MIPA dan Melek Teknologi.........................................................
Metode/Pendekatan Pendidikan MIPA....................................................................
4.1 Metode/Pendekatan Pendidikan Matematika..........................................
4.2 Metode/Pendekatan Pendidikan IPA......................................................
4.3 Implikasinya terhadap Sarana Pendidikan MIPA...................................
Faktor-faktor yang mempengaruhi Pendidikan MIPA di Sekolah............................
5.1 Faktor siswa.............................................................................................
5.2 Faktor guru..............................................................................................
5.3 Faktor Sarana...........................................................................................
5.4 Faktor Penilaian.......................................................................................
Maslah-maslah dan Perkembangan Pendidikan MIPA dewasa ini...........................
6.1 Masalah siswa..........................................................................................
6.2 Masalah Guru...........................................................................................
6.3 Masalah sarana.........................................................................................
6.4 Maslah Penilaian......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
HAKEKAT MATEMATIKA
SB : Menjelaskan istilah matematika secara harfiah
PB : Hakekat MIPA
|
|
Pengertian Matematika Secara harfiah : Istilah “matematika” berasal dari kata “mathein” atau”manthenein” (bhs. Yunani) yang berarti mempelajari. Mungkin juga kata ini erat hubungannya dengan kata “medha” (bhs. Sansekerta) yang berarti kepandaian |
|
Sumber : Nasution. A.H. 1971. Landasan Matematika. Jakarta : Bhratara. Hal. 6-7
T.1. 1.1.1 Jelaskan istilah Matematika secaraharfiah
SB : Memberikan definisi matematika
PB : Hakikat MIPA
|
|
Secara Definitif : Matematika adalah ilmu dedukatif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan kepada observasi (induktif), tetapi menerima generalisasi yang didasarkan kepada pembuktian secara dedukatif; ilmu tentang pola keteraturan, ilmu tentang struktur yang terorganisasi mulai dari unsur yang tidak didefinisikan keunsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, akhirnya ke teorema/dalil. |
|
Sumber : Ruseffendi,-E.T. 1980. Pengajaran Matematika modern untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG. Hal. 147-154
T.1. 1.2.1 Buatlah definisi matematika
SB : Menguraikan 4 macam obyek Matematika
PB : Hakikat MIPA
Obyek Matematika
Menurut E.G.Begle, Obyek matematika ada empat macam, yaitu : - Fakta
- Konsep
- Operasi
- Prinsip
|
|
Sumber : Begle, E.G. 1978. Critical Variables in Mathematics Education. NCTM: hal. 6 – 8
T.1. 1.3.1 Uraikan apa saja yang termasuk obyek matematika menurut E.G. Begle.
HAKEKAT MIPA
SB : Menyebutkan 4 bagian pokok sistem matematika
PB : Hakikat MIPA
|
|
Sistem Matematika
Terdiri dari empat bagian pokok, yaitu : - Sejumlah konsep yang tidak didefinisikan
- Oksioma-oksioma, yaitu berupa kesepakatan yang berkaitan dengan sejumlah konsep yang tidak didefinisikan.
- Konseop-konsep yang didefinisikan
- Teorema-teorema yang diperoleh dari aksioma atau definisi-definisi. Cara memperoleh teorema-teorema tersebut diturunkan dengan metode deduktif.
|
|
Sumber : Herman Hudojo. 1979. Pengembangan Kurikulum Matematika & Pelaksanaannya di Depan Kelas. Surabaya : Usaha Nasional, hal. 95-97.
T. 1. 1.4.1 Berilah masing-masing 1 contoh dari keempat bagian pokok sistem matematika.
SB : Membedakan 3 mazhab dalam matematika
PB : Hakikat MIPA
Mazhab-mazhab dalam Matematika
Tiga mazhab landasan Matematika adalah : Mazhab Logisisme : Pelopornya : Bertrand Arthur William Russell (1972 – 1970), seorang Inggris. Matematika murni semata-mata terdiri atas deduksi dengan prinsip-prinsip logika. Matematika dan logika merupakan bidang yang sama karena seluruh konsep dan dalil matematika dapat diturunkan dari logika. Matematika adalah masa dewasa dari logika, dan logika adalah masa muda dari matematika.
Mazhab Formalisme : Pelopornya : David Hilbert (1862-1943) seorang Jerman. Sifat alami matematika ialah sebagai sistem lambang yang formal, Matematika bersangkut paut dengan sifat-sifat struktural dari lambang-lambang dan proses pengolahan dari lambang-lambang tersebut.
Mazhab Intuitionisme : Pelopornya : Luitzen Egbertus Jan Brower (1881-1966) seorang Belanda. Matematika adalah bagian yang ekstra dari pemikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil matematika terletak dalamakal manusia (human intellect). Matematika berlandasakan suatu ilham dasar (basic intuition). Ilham ini pada hakikatnya merupakan suatu aktivitas berfikir yang tidak tergantung pada pengalaman bebas dari bahasa dan simbolisme serta bersifat obyektif.
|
|
Sumber : The Liang. Gie. Filsafat Matematika. Yogyakarta : Supersukses, hal. 35 – 43
T.1. 1.5.1 “Logika adalah masa muda matematika dan matematika masa dewasa logika”
Siapa yang membuat pernyataan tersebut?
Termasuk tokoh mazhab yang mana orang tersebut?
Apa alasannya sehingga dapat dikatakan demikian??
1.5.2 “Matematika merupakan hasil dari oleh pikiran manusia belaka. Bahasa Alamiah atau simbul-simbul hanya dipakai unmtuk menyampaikan pikiran-pikirannya agar orang lain atau dirinya sendiri dapat mengikuti jalan berpikirnya dalam matematika.
Pertanyaan di atas kira-kira mewakili mazhab yang mana ?
Siapakah tokoh mazhab tersebut ?
1.5.3 “Matematika merupakan ilmu tentang struktur formal dari simbul-simbul”. Matematika merupakan suatu permanian yang diuraikan di atas kertas dengan menggunakan aturan-aturan tertentu yang disertai simbul-simbul yang kosong dari arti.
Pertanyaan di atas kira-kira mewakili mazhab yang mana
Siapakah pelopor mazhab tersebut ?
1.5.4 Diskusikan dalam kelompok kecil bagaimana dapat dipertemukan pendapatan dari ketiga mazhab tersebut untuk membuat suatu definisi matematika.
SB : Menjelaskan istilah IPA secara harfiah
PB : Hakikat MIPA
|
|
Pengertian IPA
Secara Harfiah :
Science (ilmu pengetahuan) berasal dari kata bahasa latin “scientia” yang berarti pengetahuan. Science berasal dari kata bahasa Jerman « Wissenschaft » yang berarti pengetahuan yang terorganisasi secara sistematis. IPA (Natural science) merupakan kumpulan pengetahuan (tentang gejala alam) yang tersusun secara sistematis dan diperoleh dari/dengan metode yang didasarkan pada observasi. |
|
Sumber : Fisher, R.B. 1975. Science, Man & Society. Philadelphia Sounders Company, hal. 3-10
T.1. 1.6.1 Jelaskan istilah IPA secara harfiah
SB : Memberikan Definisi IPA
PB : Hakikat MIPA
|
|
Secara Definitif :
IPA adalah antar hubungan dari sederetan konsep (product) yang diperoleh dari eksperimentasi dan observasi serta berguna untuk observasi dan eksperimentasi berikutnya (James B. Conant).
IPA adalah kumpulan pengetahuan tentang gejala alam (product) dan sekaligus sebagai cara/alat untuk memandang alam (process)-(Nash & Wigner) |
|
T. 1. 1.7.1 Berikan definisi IPA menurut James B. Conant
SB : Menguraikan proses-proses IPA
PB : Hakikat MIPA
|
|
C a t a t a n :
Banyak rumusan tentang definisi IPA, yang pada umumnya mengandung unsur yang sama, yaitu IPA sebagai product dan process yang tidak dapat dipisahkan.
IPA sebagai proses dan produk
Berdasarkan beberapa definisi tentang IPA dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan gabungan proses dan produk yang tak terpisahkan.
Dengan demikian mempelajari IPA tidak cukup hanya dengan mempelajari produk-produk IPA (konsep, prinsip, teori, hukum), tetapi juga harus memperlajari bagaimana produk tsb diperoleh/ditemukan.
Proses-proses IPA bervariasi, mulai dari yang sederhana samapai yang kompleks. Mempelajari proses-proses IPA dimaksudkan untuk pengujian/pengkajian ulang terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan para ilmuwan dalam menemukan sesuatu, atau menjelaskan gejala-gejala alam. Langkah yang dimaksudkan adalah : merumuskan maslah, menyusun hipotesis, merancang eksperimen, melakukan observasi/pengukuran, mengumpulkan data dan menarik kesimpulan. |
|
Sumber : Sund, R.B. and A.A. Carin. 1980. Teaching Science Through Discovery. Columbus Charles E. Merrill, hal. 2-4.
T.1. 1.8.1 Uraikan apa yang dimaksud dengan proses-proses IPA
SB : Membedakan produk-produk IPA
PB : Hakikat MIPA
|
|
Produk-produk IPA berupa konsep, prinsip, hukum, teori. Konsep : Konstruksi mental yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil observasi. Konsep dapat dipandang sebagai abstraksi fakta.
Prinsip : Dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku bagi sekelompok gejala tertentu bagi sekelompok gejala tertentu, yang mampu menjelaskan suatu kejadian. Contoh : Prinsip pemuaian : logam mengembang bila dipanaskan
Hukum : Pada hakikatnya merupakan pernyataan hubungan antara dua bariabel atau lebih dalam suatu kaitan sebagai akibat (kausalitas). Hukum memungkinkan kita meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari suatu sebab.
Contoh : Menurut Hukum Boyle, jika volume gasdalam suatu ruang tertutup dijadikan 1/3 volume semula, maka tekanan gas akan menjadi 3 kali tekanan semula.
Teori : Merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu sektor tertentu dari suatu disiplin ilmu. Contoh : Teori : mekanika Newton, Teori Relativitas Einstein.
Teori dan hukum keduanya harus memiliki tingkat keumuman yang tinggi (univarsal) dan keduannya dapat digunakan untuk mengontrol gejala-gejala alam. |
|
Sumber : Soeparmo.H.A. 1984, Struktur Keilmuan dan teori IPA. Surabaya : Lembaga Penerbitan Universitas : Airlangga, hal. 16 -17
Modul Akta V : Filsafat Ilmu, hal. 27-45
T.1. 1.9.1 Bedakan antara konsep dan prinsip
1.9.2 Bedakan antara teori dan hukum
SB : Menjelaskan 2 Pendekatan dalam IPA
PB : Hakikat MIPA
|
|
Pendekatan dalam IPA : pendekatan induktif dan pendekatan deduktif yang saling melengkapi.
Temuan-temuan IPA yang ditarik dengan cara induktif perlu dijelaskan secara dedutif dalam arti dapat dijelaskan /disesuaikan dengan teori-teori sebelumnya. Sebaliknya temuan-temuan IPA yang ditarik secara deduktif sedapat mungkin dapat divalidasi melalui observasi induktif.
Pendekatan deduktif menggunakan cara-cara berfikir deduksi dalam menjelaskan suatu gejala alam, dengan menarik kesimpulan seara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan pendekatan deduktif produk-produk IPA dinyatakan secara logis dalamsuatu sistem referensi.
Pendekatan induktif menggunakan cara berfikir probabilistic yang ditarik dari sejumlah kasus.dengan demikian produk-produk induktif tidak memberikan kepastian mutlak melainkan merupakan penjelasan atau kerangka konsep yang masih dibatasi oleh nilai probabilitas. |
|
Sumber : Soeparmo. 1984. hal. 13-16
T.1. 1.10.1 Jelaskan bagaimana pendekatan induktif dan deduktif dalam IPA dapat saling melengkapi.
KETERKAITAN DALAM MIPA
SB : Menunjukkan peranan matematika dalam IPA
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Matematika sangat berperan/diperlukan oleh IPA, karena matematika dengan “ sistem lambang”nya yang kosong dari arti memungkinkan matematika mampu menebus berbagai disiplin ilmu lain, termasuk IPA. Peranan matematika dalam IPA antara lain adalah : a) Sebagai bahasa lambang yang dapat melambangkan konsep-konsep IPA b) Sifat numeric kuantitatif dari matematika membantu IPA dalam menyajikan konsep-konsep IPA secara kuantitatif sehingga bersifat tepat dan cermat (eksak), tidak intuitif atau terhindar dari konotasi emosional. c) Matematika sebagai metode berfikir logis dengan penalaran yang dedukatif-aksiomatif dapat/sangat membantu perkembangan IPA (dalam batas-batas tertentu), karena IPA pada dasarnya sebagai “science” di mana dasar pola berfikir/analisisnya bersifat induktif. Dengan bantuan matematika perkembangan IPA sudah barang tentu akan lebih dinamis. |
|
Sumber : Herman hudojo. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK. Hal. 74-84.
T.1. 2.1.1 Jelaskan bagaimana peranan matematika dalam IPA
SB : Menguraikan peranan IPA untuk matematikawan
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Obyek matematika adalah abstrak, artinya berada dalam alam ide. Kelihatannya matematika tidak dipengaruhi oleh alam/fisik (alam kasunyatan). Seolah-olah semua penemuan matematika hanya bersumber dari ide yang abstrak tanpa ada yang diangkat dari gejala alam/alam sekitar. Pendapat lain mengatakan bahwa sebenarnya seluruh matematika berakar dan bersumber dari alam. Ilmu hitung dan aljabar timbul karena orang membutuhkan menghitung. Geometri dan trigonometri berkembang dari masalah-masalah pengukuran. Kalkulus ditemukan untuk membantu pemecahan masalah dalam fisika. |
|
|
|
Akhir-akhir ini bentuk-bentuk baru matematika telah ditemukan untuk membantu kita dalam menanggulangi maslah-masalah ilmu sosial, perdagangan, biologi dan peperangan. Seandainya semua penemuan matematika hanya diangkat dari alam ide, tetapi matematikawannya adalah seorang-seorang manusia yang dalam aktitasnya tidak akan lepas dari pengaruh alam sekitar. Oleh karena itu banyak gejala alam maupun penemuan dalam IPA akan mempunyai kontribusi dalam aktivitas berfikir para matematikawan. Bagaimanapun matematikawan dapat/sering diilhami oleh kejadian-kejadian alam serta proses-proses dalam IPA. Mungkin sekali Fibonacci yang terkenal dengan penemuannya “barisan Fibonacci” pada mulanya dialami oleh poila banyaknya cabang dari sejenis tanaman tertentu atau oleh ukuran diameter lingkungan pada tubuh siput tertentu. Matematikawan juga dapat tertantang oleh suatu maslah dalam kejadian alam, sehingga memacu juga dalam penemuan matematikanya. Suatu kejadian/proses dalam IPA diamatinya berulang kali sambil merumuskannya dan dicari pola matematikanya, dikoreksi berulang kali, sehingga akhirnya diperoleh rumus yang baku. Contoh : Ditemukannya rumus Boyle & Gay Lussac yang selanjutnya (Setelah dikaji lebih lanjut) sampai ditemukan rumus Van der Waals.
|
|
Sumber : Allendoerfer, C.B. & Oakley, Principles of Mathematics, New York : McGraw-Hill Book Company, 1963, halaman 1-3
T.1. 2.2.1 Uraikan bagaimana peranan IPA untuk mamtematikawan
SB : Memberikan contoh tentang kontribusi IPA dalam perkembangan matematika
PB : Keterkaitan dalam MIPA
T.1. 2.3.1 Berilah contoh tentang kontribusi IPA dalam perkembangan matematika
SB : Memberikan definisi teknologi
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Teknologi : Aplikasi pengetahuan ilmiah untuk memecahkan masalh-maslah praktis dalam rangka mencapai tujuan/cita-cita manusia. Atau Sekumpulan pengetahuan yang berkembang karena kebudayaan manusia, yang menyediakan metode dan cara untuk mengendalikan lingkungan, manfaatkan sumber daya, menghasilkan barang dan jasa, dan meningkatkan kualitas kehidupan. |
|
Sumber : Fischer, R.B. 1975. Hal. 75 – 92 dan hal. 163-190
T.1. 2.4.1 Berikan definisi teknologi
SB : Memberikan definisi masyarakat
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Masyarakat : Interaksi kolektif manusia pada tingkat lokal, regional, nasional dan global. Atau Kelompok manusia yang disatukan oleh minat bersama, hubungan yang khusus, lembaga bersama, dan kultur/budaya bersama. Atau Lingkungan manusia dapat beroperasinya kegiatan ilmiah dan teknologi |
|
Sumber : Byoee, R.W. (ed.). 1985. Science Technology Society. 1985 Yearbook of NSTA hal. 86-87.
T.1. 2.5.1 Berikan definisi masyarakat
SB :Menerangkan hubungan antara MIPA dan teknologi
PB :Keterkaitan dalam MIPA
Hubungan antara MIPA dan Teknologi :
Hubungan antara matematika dan teknologi : kegunaan matematika yang paling menonjol dalam teknologi adalah sebagai alat bantu, terutama dalam analisis desain dan model-model yang akan diciptakan. Dengan demikian sumbangan matematika terhadap perkembangan teknologi sangat besar. Di sisi lain perkembangan teknologi juga memacu perkembangan matematika dengan tantangan-tantangan yang disajikan oleh teknologi modern. Produk teknologi yang membawa misi matematika, misalnya kalkulator dan komputer juga mempunyai sumbangan terhadap perkembangan mtematika.
Hubungan antara IPA dan Teknologi :
Pengetahuan yang dihasilkan oleh kegiatan ilmiah memberi sumbangan pada perkembangan teknologi baru. Di sisi lain teknologi baru mempengaruhi kegiatan ilmiah bahkan menentukan masalah-masalah. Perkembangan teknologi menimbulkan pencurian metode-metode dan instrumen-instrumen baru untuk penelitian ilmiah. |
|
Sumber : Byoee, R.W. (ed.). 1985. Science Technology Society. 1985 Yearbook of NSTA hal. 86-87.
T.1. 2.6.1 Terangkan hubungan antara matematika dengan teknologi
2.6.2 Jelaskan hubungan antara IPA dengan teknologi
SB : Menjelaskan hubungan antara MIPA dan Masyarakat
PB : Keterkaitan dalam MIPA
Sumber : Byoee, R.W. (ed.). 1985. Science Technology Society. 1985 Yearbook of NSTA hal. 86-87.
T.1. 2.7.1 Terangkan hubungan antara matematika dengan masyarakat
2.7.2 Jelaskan hubungan antara IPA dengan masyarakat
SB : Menjelaskan hubungan antara teknologi dan Masyarakat
PB : Keterkaitan dalam MIPA
Hubungan antara Teknologi dan Masyarakat :
Teknologi mempengaruhi kualitas kehidupan dan cara kita bertindak dan berinteraksi secara lokal, nasional dan global. Perubahan teknologi diikuti oleh peruabahan sosial, politik dan ekonomi yang mungkin menguntungkan atau merugikan masyarakat. Dampak teknologi baru tidak seluruhnya menguntungkan atau seluruhnya merugikan. Dampak tersebut bervariasi menurut individu, populasi, tempat dan waktu.kebuituhan, sikap dan niali sosial mempengaruhi arah perkembangan teknologi. Teknologi seringkali muncul sebagai respons terhadap niali-nilai budaya dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kelompok sosial yang dominan.
Kontrol sosial terhadap teknologi tempak dalam bentuk tuntutan untuk mengembangkan atau mencari teknologi baru. Kontroversi sosial yang berhubungan dengan teknologi biasanya berpusat pada isu-isu mengenai efisiensi,kewajaran, kebaikan (manfaat) risiko dan pengaturan (regulasi)
|
|
Sumber : Byoee, R.W. (ed.). 1985. Science Technology Society. 1985 Yearbook of NSTA hal. 86-87.
T.1. 2.8.1 Terangkan hubungan antara teknologi dengan masyarakat
SB : Menjelaskan hubungan antara MIPA, Teknologi dan Masyarakat
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Hubungan antara MIPA, Teknologi dan Masyarakat :
Hubungan antara MIPA, teknologi dan masyarakat memberikan isyarat bahwa perkembangan sosial menuju masyarakat modern sangat bergantung pada seberapa jauh demilikinya MIPA dan teknologinya oleh masyarakat.
Interaksi yang paling langsung adalah antara teknologi dan masyarakat. Teknologi lahir karena adanya pengetahuan ilmiah (MIPA). Walaupun MIPA dan teknologi berbeda, tetapi keduanya berhubungan sangat erat. |
|
Sumber : Byoee, R.W. (ed.). 1985. Science Technology Society. 1985 Yearbook of NSTA hal. 86-87.
T.1. 2.9.1 Uraikan hubungan antara MIPA, teknologi dengan masyarakat
2.9.2 Buatlah kliping surat kabar yang menggambarkan hubungan MIPA, teknologi dengan masyarakat
SB : Mengurangi tahap-tahap keterampilan matematika
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Ketrampilan Matematika :
Secara umum keterampilan matematika terdiri dari tahap-tahap : - Merumuskan maslah/hipotesis
- Melambangkan/menyatakan masalah dengan bahasa matematika
- Menganalisis/menjabarkan dengan operasi-operasi matematika
- Interpretasi/menafsirkan
- Konklusi/menarik kesimpulan
|
|
T.1. 2.10.1 Uraikan tahap-tahap keterampilan matematika
SB : Membedakan 2 ketrampilan matematika menurut Polya
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Ketrampilan Matematika dalam problem solvang,menurut Polya (1973), ada dua macam masalah, yaitu : (1) Masalah menemukan dengan bagian utamanya terdiri atas : - apakah yang dicari - bagaimana data yang diketahui - bagaimana syaratnya (2) Masalah membuktikan, dengan bagian utamanya terdiri atas : - Hipotesis - Konklusi
masalah menemukan sangat penting dalam matematika elementer, sedangkan masalah membuktikan sangat penting dalam matematika lanjut. |
|
Sumber : Herman Hudojo. 1979. hal. 158-159
T.1. 2.11.1 Bedakan 2 macam keterampilan menurut Polya
SB : Menerangkan macam-macam keterampilan proses dasar
PB : Keterkaitan dal;am MIPA
|
|
Ketrampilan IPA
Keterampilan IPA yang disebut juga keterampilan proses (science process skills)-adalah keterampilan melakukan langkah-langkah yang lazim dilakukan oleh para ilmuwan (scientist) pada waktu mereka mengkaji/menyelidiki fenomena alam. Keterampilan IPA merupakan wahana untuk pengembangan materi IPA dan juga merupakan sarana untuk menrumuskan konseop-konsep IPA. Dengan memiliki keterampilan IPA, seseoerang akan lebih dapat memahami IPA, ilmu pengetahuan yang lain, bahkanm dapat membantu memecahkan masalah-malah dalam kehidupan. Keterampilan IPA dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu (1) keterampilan proses dasar dan (2) keterampilan proses terpadu.
Keterampilan proses dasar meliputi : (a) observasi (b) Klasifikasi (c) komunikasi (d) Pengukuran (e) Prediksi (f) Inferensi (interprestasi hasil observasi/penarikan kesimpulan) |
|
Sumber : Bybee. 1985, 89 -90
Subiyanto. 1990. Strategi Belajar Mengajar IPA. Ceritakan II. Malang. IKIP Malang. Hal. 117-136
T.1. 2.12.1 Terangkan 6 macam keterampilan proses dasar
SB : Memberikan contoh macam-macam keterampilan proses dasar
PB : Keterkaitan dalam MIPA
Sumber : Sumber : Bybee. 1985, 89 -90
Subiyanto. 1990. Strategi Belajar Mengajar IPA. Ceritakan II. Malang. IKIP Malang. Hal. 117-136
T.1. 2.13.1 Terangkan 6 macam keterampilan proses dasar
SB : Menerangkan macam-macam keterampilan proses terpadu
PB : Keterkaitan dalam MIPA
|
|
Ketrampilan proses terpadu meliputi : (a) Identifikasi Variabel (b) Menyusun tabel data (c) Menggambar grafik (d) Menggambarkan hubungan antar variabel (e) Mengumpoulkan dan memproses data (f) Menganalisis penyelidikan (investigation) (g) Menyusun hipotesis (h) Merumuskan variabel secara operasional (i) Merancang penyelidikan (j) Melaksanakan eksperimen
Keterampilan IPA dapat pula diartikan sebagai keterampilan menggunakan metode ilmiah/metode IPA dalam memecahkan masalah. Langkah-langkah dalam metode ilmiah/metode IPA adalah : (a) Merumuskan masalah (b) Merumuskan hipotesis (c) Merancang eksperimen (d) Observasi (e) Mengumpulkan data (f) Menarik kesimpulan
Dalam memecahkan masalah, seorang ilmuwan melaksanakan langkah-langkah tersebut, walaupun urutannya tidak seperti yang disebutkan di atas. |
|
Sumber : sda
T.1. 2.14.1 Terangkan 10 macam keterampilan proses terpadu
SB : Memberikan contoh macam-macam keterampilan proses terpadu
PB : Keterkaitan dalam MIPA
Sumber : sda
T.1. 2.15.1 Berikan masing-masing 1 contoh keterampilan proses terpadu
SB : Menjelaskan arti ketramp[ilan teknologi
PB : Keterkaitan dalam MIPA
Sumber : sda
T.1. 2.16.1 Jelaskan apa artinya keterampilan teknologi
TUJUAN PENDIDIKAN MIPA
SB : Menguraikan kemampuan-kemampuan yang perlu dikembangkan agar dapat memecahkan masalah
PB : Tujuan Pendidikan MIPA
|
|
Untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah perlu dikembangkan : (a) Kemampuan mengidentifikasi masalah (b) Kemampuan menjabarkan masalah ke dalam komponen-komponennya. (c) Kemampuan menyusun hipotesis (d) Kemampuan merancang strategi pemecahan masalah (eksperimen) (e) Kemampuan memproyeksikan konsekuensi dari upaya pemecahan maslah yang dilakukan |
|
Sumber : Bybee, R.W. Hal. 90-93
T.1. 3.1.1 Sebutkan 5 kemampuan yang perlu dikembangkan agar dapat memecahkan masalah
3.1.2 Diskusikan dalam kelompok salah satu masalah pendidikan
SB : Menjelaskan cara pengembangan kemampuan mengumpulkan informasi
PB : Tujuan Pendidikan MIPA
|
|
Kemampuan mengumpulkan informasi dikembangkan selalui : (a) Kemampuan mengidentifikasi sumber-sumber informasi (b) Kemampuan menyerap informasi yang relevan (c) Kemampuan memanfaatkan informasi
|
|
Sumber : Bybee, R.W. Hal. 90-93
T.1. 3.2.1 Jelaskan 3 langkah pengembangan kemampuan memanfaatkan informasi untuk mengambil keputusan.
SB : Menjelaskan macam-macam tingkat kemampuan memanfaatkan informasi untuk mengambil keputusan
PB : Tujuan Pendidikan MIPA
|
|
Kemampuan memanfaatkan informasi untuk mengambil keputusan dikembangkan melalui : (a) Kemampuan memilih dan menganalisis informasi (b) Kemampuan menyusun paradigma berfikir berdasarkan informasi yang ada (c) Kemampuan menarik kesimpulan dan mengambil keputusan |
|
Sumber : Bybee, R.W. Hal. 90-93
T.1. 3.3.1 Jelaskan 3 langkah pengembangan kemampuan memanfaatkan informasi untuk mengambil keputusan
SB : Menjelaskan macam-macam tingkat sikap yang ingin dikembangkan melalui pendidikan MIPA
PB : Tujuan Pendidikan MIPA
Sumber : Subiyanto. 1990. hal 17-30
T.1. 3.4.1 Jelaskan 4 macam tingkat sikap yang ingin dikembangkan melalui pendidikan MIPA
3.4.2 Jelaskan sifat apa yang diharapkan dapat dimiliki oleh seorang setelah belajar matematika
3.4.3 Dikatakan bahwa matematika adalah saudara kembar seni. Akibatnya, seorang yang belajar matematika akan memikili jiwa seni. Jelaskan maksud pernyataan tersebut.
SB : Menjelaskan ciri-ciri seorang yang melek IPA
PB : Tujuan Pendidikan MIPA
Sumber : Holdzkom & Lutz. 1984 Research Within Reach : Science Education. NSTA : special publication Department. Hal. 31
T.1. 3.5.1 Tuliskan paling sedikit 6 ciri seseorang yang melek IPA
SB : Membedakan 3 bentuk melek IPA menurut Shen
PB : Tujuan Pendidikan MIPA
|
|
Menurut Shen (1975) dalam Bybee (1986) ada 3 bentuk dari melek IPA yang berbeda namun berkaitan, yaitu : praktis,yang bersifat kewarganegaraan yang bersifat kultural. Melek IPA praktis : Ditandai dengan dimilikinya pengetahuan ilmiah dan pengetahuan teknis yang juga dapat digunakan untuk membantu memecahkan kebutuhan manusia yang paling dasar dalam bidang kesehatan dan kelestarian hidup.
Melek IPA yang bersifat kewarganegaraan : Ditandai dengan adanya kesadaran bahwa IPA dan teknologi itu berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang memungkinkan warganegara dan wakil-wakilnya menerapkan dalam isu-isu sosisal.
Melek IPA yang bersifat kultural : Ditandai dengan pemahaman bahwa IPA dan teknologi merupakan hasil karya manusia yang utama. Melek IPA secara kultural membantu menjembatani jurang antara “dua kebudayaan”
|
|
Sumber : Bybee. 1986. hal. 83-85
T.1. 3.6.1 Menurut Shen, ada 3 bentuk melek IPA. Jelaskan masing-masing.
SB : Menguraikan ciri-ciri seseorang yang melek teknologi
PB : Tujuan Pendidikan MIPA
|
|
Ciri-ciri seseorang yang melek teknologi: (a) Memahami beberapa konsep dasar mengenai mesin/engineering, yaitu mengenai apa sistem itum bagaimana balikan mempengaruhi sistem, apa yang dimaksud dengan probabilitas, bagaimana menggunakan model-model
(b) Memiliki pemahaman mengenai bagaimana cara kerja teknologi tertentu dan apakah kemampuan dan keterbatasannya.
(c) Menyadari bahwa teknologi itu dikembangkan sesuai dengan orang yang menggunakannya
(d) Memiliki kepercayaan diri untuk mempelajari teknologi, walaupun tidak memiliki latar belakang teknik.
Tambahan : Masyarakat luas hendaknya disadarkan tentang pentingnya MIPA dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan matematika harus dimiliki oleh setiap orang sekalipun kadarnya tidak harus sama. Setidak-tidaknya harus dipahami sebatas keperluan sesuai dengan profesinya. Kehidupan ini penuh dengan perhitungan (hisab) dan konsekuensinya setiap orang memerlukan kemampuan matematika dalam hidup dan kehidupannya.
|
|
Sumber : Bybee. 1986. hal. 155-157
T.1. 3.7.1 Sebutkan 4 ciri seseorang yang melek teknologi.
METODE PENDEKATAN PENDIDIKAN MIPA
SB : Membandingkan 2 buku teori belajar matematika
PB : Metode/Pendekatan Pendidikan MIPA
|
|
Ada 2 kubu teori belajar matematika, yaitu :
(1) Kubu yang bertumpu pada psikologi tingkahlaku (tokoh-tokohnya antara lain : thorndike, skinner dan Gagne) (2) Kubu yang bertumpu pada psikologi kognitif (tokoh-tokohnya antara lain: Piaget, Brunar, Dienes, Ausubel dan Guilford). |
|
Sumber : Herman Hudojo. 1988. hal. 10-69
T.1. 4.1.1 Bedakan adanya 2 kubu teori belajar matematika
4.1.2 Sebutkan masing-masing 3 tokoh dari kedua kubu teori belajar matematika tersebut.
SB : Menjelaskan implikasi adanya penekanan aspek tertentu menurut masing-masing teori belajar
PB : Metode/pendekatan Pendidikan MIPA
|
|
Agar dalam belajar matematika dapat berhasil dengan baik, kubu psikologi tingkah laku menekankan seringnya terjadi stimulus-respons pada diri subyek belajar. Sedangkan menurut kubu psikologi kognitif menekankan pada penguasaan konsep.
|
|
Sumber : Herman Hudojo. 1988. hal. 10-69
T.1. 4.2.1 Jelaskan implikasi adanya penekanan aspek tertentu menurut masing-masing kubu teori belajar terhadap keberhasilan belajar matematika.
SB : Memperbandingkan macam-macam pendekatan dalam PBM matematika dan IPA
PB : Metode/Pendekatan Pendidikan MIPA
|
|
Pendekatan dalam proses, belajar mengantar matematika antara lain : - Pendekatan deduktif - Pendekatan induktif - Pendekatan spiral - Pendekatan keterampilan proses - Pendekatan CBSA |
|
Sumber : Sutrisman Murtadho & B. Tambunan. 19.Modul UT : Materi pokok Pengajaran Matematika (butir 3.1 – 6.62)
T.1. 4.3.1 Jelaskan masing-masing pendekatan yang digunakan dalam proses belajr-mengajar matematika
4.3.2 Jelaskan masing-masing pendekatan yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPA
SB : Membandingkan 2 buku teori belajar matematika
PB : Metode/Pendekatan Pendidikan MIPA
|
|
|
Metode mengajar matematika antara lain : - metode ekspositori - metode diskusi - metode sintetis - metode analisis - metode laboratorium - metode penemuan
pendekatan maupun metode mengajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar matematika harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif anak, pengalaman belajar anak, serta karakteristik materi. Dalam penilaian metode mengajar matematika harus diperhatikan kriteria pemilihan metode.
Metode/pendekatan/strategi instruksional IPA (1) Kegiatan laboratorium : - Harus terstruktur, sekali seminggu - Berdasarkan tema ITM, misalnya populasi udara kualitas air dsb. - Tugaskan siswa untuk merancang dan memikirkan sendiri
|
|
|
|
(2) Kegiatan lapangan : - harus diatur sehingga siswa tahu apa yang harus dicari di lapangan
(3) Instruksi/Pengajaran dengan bantuan komputer : - Siswa dapat berinteraksi langsung dengan macam-macam data yang disimulasikan dengan komputer, mengetahui kemampuan komputer.
(4) Diskusi : - Menggunakan topik-topik yang menimbulkan kontroversi, mulailah dengan yang tidak terlalu kontroversial - Bisa mendatangkan nara sumber dari luar - Usahakan panel diskusi atau debat
(5) Pengambilan keputusan : - Menunjukkan kegunaan metode ilmiah untuk mencari pemecahan masalah.
(6) Bermain peran : - Meningkatan insprirasi, minat dan keingintahuan untuk belajar.
Kurikulum dengan focus sosial menghadapi kebutuhan kompleks, yaitu bahwa penyajian materinya harus mencakup pengajaran dengan metode dan teknik ilmiah, kebutuhan masyarakat dan perkembangan pertimbangan moral. Hal ini memerlukan pengintegrasian pengetahuan dari dua bidang yang secara tradisional dianggap sangat terpisah, yaitu IPA dan IPS. Selain itu perlu diajarkan etika, nilai-nilai dan moralitas dalam IPA.
|
|
Sumber : Herman Hudojo. 1988. hal. 119-140
T.1. 4.4.1 Jelaskan macam-macam metode yang digunakan dalam proses belajar-mengajar matematika
4.4.2 Jelaskan macam-macam metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPA
SB : Menjelaskan asumsi pemilihan strategi instruksional untuk mengajaran IPA dengan pedndekatan ITM
SB : Metode /pendekatan pendidikan MIPA
|
|
Strategi instruksional yang digunakan semuanya menggunakan asumsi bahwa :
(1) Guru bertindak sebagai pengelola (manajer) untuk mengelola a. Manusia (siswa, kepala sekolah, pembicara tamu, dsb) sesuai dengan kebutuhan. b. Sumber daya material/benda (peralatan dan perlengkapan lab, dan penelitian buku, slide dsb) c. Lingkungan belajar d. Waktu
(2) Diskusi kelompok kecil difgunakan sebagai cara mengajar utama. Dapat digunakan kelompok yang terdiri dari 2,3 atau 4 orang. Masing-masing kelompok diberi masalah yang sama atau berbeda, tergantung keperluannya.
(3) Kontroversi digunakan sebagai sarana untuk memotivasi belajar yang efektif, karena menggalakkan perkembangan kognitif untuk berfikir logis, juga perkembangan pemikiran yang berhubungan dengan moral, menggalakkan pemecahan masalah dan pengambilan kleputusan, kreativitas, banyaknya ide, mutu ide dsb.
(4) Penggunaan informasi factual yang cukup ke dalam diskusi sehingga pertukaran pendapat memiliki landasan yang kuat, tidak berdasarkan ketidaktahuan.
Tema untuk diskusi : dicontohkan 4 tema, yaitu (1) Pengambilan keputusan (2) Penangan komflik (3) Perhitungan risiko (mengidentifikasi risiko, perimbangan dan pengambilan risiko) (4) Analisis untung rugi |
|
Sumber : Bybee. 1986. Hal. 177-203.
Subiyanto. 1990. Hal. 31-80
T.1. 4.5.1 Jelaskan adanya 3 asumsi yang melandasi pemilihan strategi instruksional untuk pengajaran IPA dengan pendekatan ITM (IPA, teknologi, Masyarakat)
SB : Menguraikan implikasi metode/pendekatan terhadap sarana pendidikan
PB : Metode/Pendekatan Pendidikan MIPA
|
|
Perlu dicari cara-cara pengajaran tentang IPA dan masyarakat ke dalam kurikulum, antara lain dengan : - Perluasan materi yang terdapat dalam buku teks (dilengkapi dengan materi dari sumber lain) - Pengintegrasian kegiatan yang berhubungan dengan IPA, Teknologi dan Masyarakat, secara berangsur-angsur. - Penambahan unit IPA, Teknologi dan Masyarakat dalam seluruh materi IPA.
Perlu kerjasama antara kelompok/bidang : - Industri - IPA murni dan terapan, termasuk teknik, pertanian dan kesehatan - Pendidikan (formal dan informal)
Untuk meningkatkan pendidikan IPA teknologi dan masyarakat.
Tambahan : Implikasi metode/pendekatan terhadap sarana pengajaran matematika :
“ Mengajar adalah membelajarkan siswa” bertolah dari motto tersebut maka pengajaran matematika yang baik adalah menciptakan sistuasi belajar yang baik bagi para siswa. Dengan pemilihan pendekatan dan metode yang tepat (sesuai perkembangan kognitif anak, sesuai pengalaman belajar anak, serta sesuai dengan karakteristik materi), maka secara umum dapat dikatakan bahwa pendekatan/divariasikan secara proporsional dan kondisional. Untuk subyek belajar yang belum mencapai tahap formal (menurut Piaget), hendaklah lebih ditekankan pada objek-objek konkrit sebagai objek tiruan. Hal ini sesuai dengan metode yang melibatkan pada obyek-obyek konkrit sebagai obyek tiruan. Karena pengajaran matematika menggunakan dua kubu psikologi belajar, maka dalam praktek pengajaran matematika hendaknya ditanamkan dahulu konsep matematika secara baik kemudian diiringi dengan latihan-latihan/hafalan (psikologi stimulus-respons). Implikasinya terhadap sarana pengajaran matematika, seprti alat peraga, laboratorium pengjaran matematika yang memadai. |
|
Sumber : Bybee. 1986. Hal. 204-212
Subiyanto. 1990. Hal. 82-102
Bybee. 1986. Hal. 213 – 220
Bybee. 1986. Hal. 267 - 268
T.1. 4.6.1 Uraikan implikasi dipilihnya metode/pendekatan tertentu terhadap sarana pendidikan matematika
4.6.2 Uraikan implikasi dipilihnya pendekatan ITM terhadap sarana pendidikan IPA
4.6.3 Diskusikan dalam kelompok sarana pendidikan IPA apa saja yang perlu diadakan di Indonesia bila dipilih pendekatan ITM.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN MIPA
SB : Menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan siswa yang mempengaruhi proses belajar mengajar MIPA
PB : Faktor-faktor yang mempengaruhi Pendidikan MIPA di sekolah
Sumber : Herman Hudojo. 1988. hal. 6-8
T.1. 5.1.1 Jelaskan 4 hal yang berhubungan dengan siswa yang mempengaruhi proses belajar mengajar MIPA.
SB : Menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan guru yang mempengaruhi proses belajar mengajar MIPA
PB : Faktor-faktor yang mempengaruhi Pendidikan MIPA di sekolah
|
|
2. Pengajar Faktor berikutnya setelah peserta didik adalah pengajar. Pengajar melaksanakan kegiatan mengajar sehingga proses belajar diharapkan dapat berlangsung efektif. Kemampuan pengajar dalam menyampaikan matematika dan sekaligus menguasai materi yang diajarkan sangat mempengaruhi terjadinya proses belajar. Kepribadian, pengalaman dan motivasi pengajar dalam mengajar matematika juga berpengaruh terhadap efektivitasnya proses belajar.
Penguasaan materi matematika dan cara penyampaiannya merupakan syarat yang tidak dapat ditawar lagi bagi pengajar matematika. Seorang pengajar matematika yang tidak menguasai materi matematika yang akan diajarkan tidak mungkin ia dapat mengajar matematika dengan baik. Demikian juga seorang pengajar yang tidak menguasai berbagai cara penyampaian, ia hanya mengejar terselesaikannya bahan yang diajarkan tanpa memperhatikan kemampuan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal yang pertama, mengakibatkan rendahnya mutu pengajaran matematika dan dalam hal yang kedua dapat menimbulkan kesulitan peserta didik dalam memahami pengajaran bahkan mungkin menjadi frustrasi dalam diri peserta didik. Jika situasi yang dilukiskan itu terjadi, berarti proses belajar mengajar matematika tidak berlangsung efektif dan tentu saja peserta didik menjadi gagal dalam belajar matematika.
Kita mengenal suatu peribahasa yang berbunyi : “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ini menyiratkan tentang keteladanan. Ini ternyata tidak hanya berlaku bagi kita di Indonesia. Sebagai misal dapat dikemukakan pendapat ahli barat yang mengatakan bahwa mengajar adalah suyatu pekerjaan sukar yang berkelanjutan yang perlu dilakukan lewat kasih sayang dengan mengawasi, mengingatkan, menghukum, dan memuji tetapi di atas segala- |
|
|
|
Galanya : dengan contoh. Sehubungan dengan keteladanan ini, kiranya tidak berlebihan jika seorang guru dituntut untuk misalnya berpakaian layak, bersikap lemah lembut namun tegas, memiliki gaya bicara yang baik, memiliki sikap dan gaya yang baik dalam misalnya berdiri, berjalan, duduk dan sebagainya dan mempunyai semangat mengajar dan bekerja sama dengan para peserta didik. Selain yang tersebut di atas, sehubungan dengan apakah seorang guru dapat mengajar dengan baik atau tidak, ada beberapa ketentuan yang patut mendapat perhatian kita diantaranya ialah seperti yang diuraikan di bawah. Pertama seorang guru yang baik perlu memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang ilmu (misalnya Ilmu Pengetahuan Alam atau cabang-cabangnya) yang diajarkannya. Hendaknya guru itu mempunyai pengetahuan tentang bahan yang diajarkan nya itu jauh melebihi para siswa yang diajarkannya. Karena itu dipersyaratan bahwa seorang guru pada suatu jentang pendidikan tertentu harus memperoleh ijazah pada jenjang pendidikan yang tinggi. Kedua, seorang guru yang baik p[erlu memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang psikologi dari yang bersifat umum, sampoai psikologi pendidikan dan psikologi adolesen. Pengetahuan tentang psikologi ini akan membantu guru untuk secara lebih tepat mengarahkan siswanya belajar. Ketiga, untuk dapat mengajar dengan sangkil dan mangkus, seorang guru perluku mengetahui metodologi yang baik. Yang lebih penting lagi ialah bahwa ia harus mampu memilih metode mengajar yang paling sesuai dengan dirinya. Keempat, seorang guru perlu mempelajari sejarah pendidikan dan filsafat pendidikan. Dengan demikian ia diharapkan tidak akan mengulangi kesalahan mengajar yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Sementara itu ia mengetahui hakekat pendidikan yang sebenarnya. |
|
Sumber : Sda dan Subiyanto, 1990. hal. 34-35
T.1. 5.2.1 Uraikan 5 faktor yang berhubungan dengan guru yang mempengaruhi proses belajar mengajar MIPA.
SB : Menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan guru yang mempengaruhi proses belajar mengajar MIPA
PB : Faktor-faktor yang mempengaruhi Pendidikan MIPA di sekolah
|
|
3. Pra sarana dan sarana Pra sarana yang “mapan” seperti ruangan yang sejuk dan bersih dengan tempat duduk yang nyaman biasanya lebih memperlancar terjadinya proses belajar. Demikian pula saran yang lengkap seperti adanya buku teks dan alat bantu belajar akan memrupakan fasilitas belajar yang penting. Penyediaan sumber belajar yang lain, seperti majalah tentang pengajran matematika, laboratorium matematika dan lain-lain akan meningkatakan kualitas belajar peserta didik. |
|
Sumber : Sda
T.1. 5.3.1 Sebutkan prasarana dan sarana yang mempengaruhi proses belajar mengajar MIPA
SB : Memerinci pengaruh penilaian terhadap pendidikan MIPA
PB ; Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan MIPA di sekolah.
|
|
4. Penilaian penilaian dipergunakan di samping untuk melihat hasil beelajarnya, tetapi juga untuk melihat bagaimana berlangsungnya interaksi antara pengajar dan peserta didik. Misalnya kita dapat menganalisis tentang : a. Keberhasilan peserta didik dalam belajar matematika b. Apakah di dalam proses belajar matematika itu didominasi pengajar ataukah komunikasi terjadi dua arah. c. Apakah pertanyaan dianjurkan pengajar kepada peserta didik merangsang belajar ataukah mematikan. d. Apakah pertanyaan yang diajukan pengajar menyangkut ranah kognitif rendah sperti ingatan dan pemahaman saja ataukan ranah kognitif tinggi seperti penyelesian masalah.
Fungsi penilaian dapat meningkatkan kegitan belajar sehingga dapat diharapkan memperbaiki hasil belajar di samping itu, penilaian juga mengacu ke proses belajaranya. Yang dinilai dalam proses belajar itu adalah bagaimana langkah-langkahnya berpikir peserta didik dalam menyelesaikan masalah matematika.apabila langkah berfikir dalam menyelesaikan maslah benar, menunjukkan proses belajranya baik. Dengan demikian apabila hasil penilaian menunjukkan proses belajar baik,. Maka hasil beljarnyapun baik, walaupun misalnya pada langkah terakhir dalam menyelesaikan masalah hasil terakhirnya salah. Keempat faktor yangdikemukan di atas kesemuanya mempengaruhi terjadinya proses mengajar dan belajar yang dapat digambarkan seperti gambar berikut : |
|
Gambar 1.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya proses mengajar dan Belajar
Sumber : Sda
T. 1. 5.4. 1 Rincilah pengaruh penilaian terhadap pendidikan MIPA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Selamat Datang Di Blogger Ignasius Fandy Jayanto